Nama : Rezki Apriyani
Kelas : 3PA05
NPM : 15510831
Akulturasi Psikologis
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu
kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari
suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan
diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur
kebudayaan kelompok itu sendiri. Contoh akulturasi: Saat budaya rap dari
negara asing digabungkan dengan bahasa Jawa, sehingga menge-rap dengan
menggunakan bahasa Jawa. Ini terjadi di acara Simfoni Semesta Raya.
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya.
Menurut asalnya katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno:
“ψυχή” (Psychē yang berarti jiwa) dan “-λογία” (-logia yang artinya
ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu
yang mempelajari tentang jiwa.
Jadi akulturasi psikologis adalah suatu proses sosial yang timbul
manakala suatu kelompok manusia dengan perilaku tertentu dihadapkan
dengan unsur dari suatu perilaku asing. Perilaku asing itu lambat laun
diterima dan diolah ke dalam perilakunya sendiri tanpa menyebabkan
hilangnya unsur periaku kelompok sendiri. Singkatnya terdapat perpaduan
antara perilaku sendiri dengan perilaku asing, tanpa menghilangkan unsur
perilaku kelompok sendiri.
http://id.wikipedia.org/wiki/Akulturasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi
Senin, 07 Januari 2013
Senin, 05 November 2012
AKULTURASI DAN RELASI INTERNAKULTURAL
Pengertian Akulturasi dan Relasi Interkultural
Akuturasi adalah
perpaduan antara kebudayaan yang berbeda yang berlangsung dengan damai
dan serasi. Sedangkan Menurut Definisi lain menyatakan bahwa Akulturasi
merupakan sebuah istilah dalam ilmu Sosiologi yang berarti proses
pengambil alihan unsur-unsur (sifat) kebudayaan lain oleh sebuah
kelompok atau individu. Adalah suatu hal yang menarik ketika melihat
dan mengamati proses akulturasi tersebut sehingga nantinya secara
evolusi menjadi Asimilasi (meleburnya dua kebudayaan atau lebih,
sehingga menjadi satu kebudayaan). Menariknya dalam melihat dan
mengamati proses akulturasi dikarenakan adanya Deviasi Sosiopatik
seperti mental disorder yang menyertainya. Hal tersebut dirasa sangat
didukung faktor kebutuhan, motivasi dan lingkungan yang menyebabkan
seseorang bertingkah laku.
Akulturasi budaya dapat terjadi karena
keterbukaan suatu komunitas masyarakat akan mengakibatkan kebudayaan
yang mereka miliki akan terpengaruh dengan kebudayaan komunitas
masyarakat lain. Selain keterbukaan masyarakatnya, perubahan kebudayaan
yang disebabkan “perkawinan“ dua kebudayaan bisa juga terjadi akibat
adanya pemaksaan dari masyarakat asing memasukkan unsur kebudayaan
mereka. Akulturasi budaya bisa juga terjadi karena kontak dengan budaya
lain, system pendidikan yang maju yang mengajarkan seseorang untuk
lebih berfikir ilmiah dan objektif, keinginan untuk maju, sikap mudah
menerima hal-hal baru dan toleransi terhadap perubahan.
Sedangkan Pengertian Hubungan antar Budaya (relasi interkultural)
adalah Peristiwa yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi antar
budaya local maupun budaya asing contohnya : antar Budaya Jawa-sunda,
Sunda Minang, Jawa- Minang, Betawi – Jawa dan lain sebagainnya
Hubungan Tersebut di mungkinkan
dikarenakan karena adanya suatu kesatuan / perkelompok manusia yang
saling berhubungan dan terjadilah Akulturasi kebudayaan dan Asimilasi budaya dikarenakan adalah :
- Manusia mahluk yang Berbudaya karena memiliki akal, nurani dan Kehendak.
- Kebudayaan itu berasal dari bahasa sansekerta yang berartikan Budi dan Akal.
Kebudayaan adalah hasil dari cipta , rasa , dan karsa manusia.
- Manusia dan kebudayaan merupakan dwi tunggal karena keduanya tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain, dimana ada sekelompok manusia/suatu organisasi maka di suatu organisasi/kelompok tersebut akan menghasikan kebudayaan masing-masing.
- Kebudayaan sangat berguna bagi masyarakat atau manusia untuk melindungi diri terhadap alam mengatur hubungan antara manusia dan sebagai wadah segenap perasaan manusia.
- Kebudayaan yang hidup dan berkembang pada suatu suku bangsa di setiap daerah disebut dengan kebudayaan lokal.
- Hubungan antar budaya dapat terjadi melalui : difusi dan akulturasi (percampuran antara 2 budaya atau lebih yang dapat menghasilkan budaya yg baru dan tanpa meninggalkan budaya yang lama atau sebelumnya).
- Unsur-unsur pokok atau inti inti suatu kebudayaan dapat dijumpai pada setiap kebudayaan di dunia maka itu dapat disebut dengan kebudayaan universal (cultural universal).
2. Bentuk-bentuk akulturasi dan Relasi Interkultural yang terjadi di Indonesia yaitu :
1. Seni Bangunan
Salah satu wujud akulturasi dari
peralatan hidup dan teknologi terlihat dalam seni bangunan Candi. Seni
bangunan Candi tersebut memang mengandung unsur budaya India tetapi
keberadaan candi-candi di Indonesia tidak sama dengan candi-candi yang
ada di India, karena candi di Indonesia hanya mengambil unsur teknologi
perbuatannya melalui dasar-dasar teoritis yang tercantum dalam kitab
Silpasastra yaitu sebuah kitab pegangan yang memuat berbagai petunjuk
untuk melaksanakan pembuatan arca dan bangunan. Untuk itu dilihat dari
bentuk dasar maupun fungsi candi tersebut terdapat perbedaan. Bentuk
dasar bangunan candi di Indonesia adalah punden berundak-undak, yang
merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Megalithikum yang berfungsi
sebagai tempat pemujaan. Sedangkan fungsi bangunan candi itu sendiri di
Indonesia sesuai dengan asal kata candi tersebut.
Contoh :
- Candi Singasari adalah salah satu peninggalan kerajaan Singosari yang merupakan tempat dimuliakannya raja Wisnuwardhana yang memerintah tahun 1248 – 1268. Dilihat dari candi tersebut, bentuk dasarnya adalah punden berundak- undak dan pada bagian bawah terdapat kaki candi yang di dalamnya terdapat sumuran candi, di mana di dalam sumuran candi tersebut tempat menyimpan pripih (lambang jasmaniah raja Wisnuwardhana). Unsur Indonesia asli adalah Menhir, sedang unsur India Prasasti dan tiang untuk menambatkan binatang kurban.
- Lingga dan Yoni (lambang kesuburan). Unsur India adalah Lingga Yoni sedang unsur Indonesia asli adalah Alu dan Lumpang.
2. Seni rupa/Seni lukis
Unsur seni rupa dan seni lukis India
telah masuk ke Indonesia. Hal ini terbukti dengan ditemukannya patung
Budha berlanggam Gandara di kota Bangun, Kutai. Juga patung Budha
berlanggam Amarawati ditemukan di Sikendeng (Sulawesi Selatan). Pada
Candi Borobudur tampak adanya seni rupa India, dengan ditemukannya
relief-relief ceritera Sang Budha Gautama. Relief pada Candi Borobudur
pada umumnya lebih menunjukan suasana alam Indonesia, terlihat dengan
adanya lukisan rumah panggung dan hiasan burung merpati. Di samping
itu, juga terdapat hiasan perahu bercadik. Lukisan-lukisan tersebut
merupakan lukisan asli Indonesia, karena tidak pernah ditemukan pada
candi-candi yang terdapat di India. Juga relief pada Candi Prambanan
yang memuat cerita Ramayana. Relief dari candi Borobudur yang
menggambarkan Budha sedang digoda oleh Mara yang menari-nari diiringi
gendang.
3. Seni sastra
Untuk wujud akulturasi dalam seni
sastra dapat dibuktikan dengan adanya suatu ceritera/ kisah yang
berkembang di Indonesia yang bersumber dari kitab Ramayana yang ditulis
oleh Walmiki dan kitab Mahabarata yang ditulis oleh Wiyasa. Kedua kitab
tersebut merupakan kitab kepercayaan umat Hindu. Tetapi setelah
berkembang di Indonesia tidak sama proses seperti aslinya dari India
karena sudah disadur kembali oleh pujangga-pujangga Indonesia, ke dalam
bahasa Jawa kuno. Tokoh-tokoh cerita dalam kisah tersebut ditambah
dengan hadirnya tokoh Punakawan seperti Semar, Bagong, Petruk dan
Gareng.
4. Sistem Kalender
Diadopsinya sistem kalender atau
penanggalan India di Indonesia merupakan wujud dari akulturasi, yaitu
terlihat dengan adanya penggunaan tahun Saka, di Indonesia yang dimulai
tahun 78 M (merupakan tahun Matahari, tahun Samsiah) pada waktu raja
Kanishka I dinobatkan jumlah hari dalam 1 tahun ada 365 hari. Oleh
orang Bali, tahun Saka tidak didasarkan pada sistem Surya Pramana
tetapi sistem Chandra Pramana (tahun Bulan, tahun Kamariah) dalam 1
tahun ada 354 hari. Musim panas jatuh pada hari yang sama dalam bulan
Maret dimana matahari, bumi, bulan ada pada garis lurus. Hari tersebut
dirayakan sebagai Hari Raya Nyepi. Di samping itu, juga ditemukan
Candra Sangkala atau konogram dalam usaha memperingati peristiwa dengan
tahun atau kalender Saka. Candra Sangkala adala angka huruf berupa
susunan kalimat atau gambar kata. Contoh tahun Candra Sangkala adalah
“Sirna Ilang Kertaning Bumi” sama dengan 1400 (tahunsaka) dan sama
dengan 1478 Masehi. Tercipta kalender dengan sebutan tahun Saka ·
5. Bahasa
Penggunaan bahasa Sansekerta pada
awalnya banyak ditemukan pada prasasti (batu bertulis) peninggalan
kerajaan Hindu – Budha pada abad 5 – 7 M, contohnya prasasti Yupa dari
Kutai, prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Tetapi untuk
perkembangan selanjutnya bahasa Sansekerta digantikan oleh bahasa
Melayu Kunoseperti yang ditemukan pada prasasti peninggalan kerajaan
Sriwijaya 7 – 13 M. Untuk aksara, dapat dibuktikan adanya penggunaan
huruf Pallawa, kemudian berkembang menjadi huruf Jawa Kuno (kawi) dan
huruf (aksara) Bali dan Bugis. Hal ini dapat dibuktikan melalui
Prasasti Dinoyo (Malang) yang menggunakan huruf Jawa Kuno. Di kerajaan
Sriwijaya huruf Pallawa berkembang menjadi huruf Nagari.
3. Teori Komunikasi Antar Budaya
Philipsen (dalam Griffin, 2003)
mendeskripsikan budaya sebagai suatu konstruksi sosial dan pola simbol,
makna-makna, pendapat, dan aturan-aturan yang dipancarkan secara
mensejarah. Pada dasarnya, budaya adalah suatu kode. Terdapat empat
dimensi krusial yang dapat untuk memperbandingkan budaya-budaya, yaitu:
1. Jarak kekuasaan (power distance) 2. Maskulinitas 3. Penghindaran ketidakpastian (uncertainty avoidance) 4. Individualisme.
Berkenaan dengan pembahasan komunikasi antarbudaya, Griffin (2003) menyadur teori AnXiety/Uncertainty Management; Face-Negotiation; dan Speech Codes.
1. Anxiety/Uncertainty Management Theory (Teori Pengelolaan Kecemasan/Ketidakpastian).
Teori yang di publikasikan William
Gudykunst ini memfokuskan pada perbedaan budaya pada kelompok dan orang
asing. Ia berniat bahwa teorinya dapat digunakan pada segala situasi
dimana terdapat perbedaan diantara keraguan dan ketakutan. Ia
menggunakan istilah komunikasi efektif kepada proses-proses
meminimalisir ketidakmengertian. Penulis lain menggunakan istilah accuracy, fidelity, understanding untuk hal yang sama.
Gudykunst menyakini bahwa kecemasan dan
ketidakpastian adalah dasar penyebab dari kegagalan komunikasi pada
situasi antar kelompok. Terdapat dua penyebab dari mis-interpretasi
yang berhubungan erat, kemudian melihat itu sebagai perbedaan pada
ketidakpastian yang bersifat kognitif dan kecemasan yang bersifat
afeksi- suatu emosi.
Konsep-konsep dasar Anxiety/Uncertainty Management Theory:
a. Konsep diri dan diri.
Meningkatnya harga diri ketika berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan peningkatan kemampuan mengelola kecemasan.
b. Motivasi untuk berinteraksi dengan orang asing.
Meningkatnya kebutuhan diri untuk masuk
di dalam kelompok ketika kita berinteraksi dengan orang asing akan
menghasilkan sebuah peningkatan kecemasan.
c. Reaksi terhadap orang asing.
Sebuah peningkatan dalam kemampuan kita
untuk memproses informasi yang kompleks tentang orang asing akan
menghasilkan sebuah peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi secara
tepat perilaku mereka.
Sebuah peningkatan untuk mentoleransi
ketika kita berinteraksi dengan orang asing menghasilkan sebuah
peningkatan mengelola kecemasan kita dan menghasilkan sebuah
peningkatan kemampuan memprediksi secara akurat perilaku orang asing.
Sebuah peningkatan berempati dengan
orang asing akan menghasilkan suatu peningkatan kemampuan memprediksi
perilaku orang asing secara akurat.
d. Kategori sosial dari orang asing.
Sebuah peningkatan kesamaan personal
yang kita persepsi antara diri kita dan orang asing akan menghasilkan
peningkatan kemampuan mengelola kecemasan kita dan kemampuan
memprediksi perilaku mereka secara akurat. Pembatas kondisi: pemahaman
perbedaan-perbedaan kelompok kritis hanya ketika orang orang asing
mengidentifikasikan secara kuat dengan kelompok. Sebuah peningkatan
kesadaran terhadap pelanggaran orang asing dari harapan positif kita
dan atau harapan negatif akan menghasilkan peningkatan kecemasan kita
dan akan menghasilkan penurunan di dalam rasa percaya diri dalam
memperkrakan perilaku mereka.
e. Proses situasional.
Sebuah peningkatan di dalam situasi
informal di mana kita sedang berkomunikasi dengan orang asing akan
menghasilkan sebuah penurunan kecemasan kita dan sebuah peningkatan
rasa percaya diri kita terhadap perilaku mereka.
f. Koneksi dengan orang asing.
Sebuah peningkatan di dalam rasa
ketertarikan kita pada orang asing akan menghasilkan penurunan
kecemasan kita dan peningkatan rasa percaya diri dalam memperkirakan
perilaku mereka. Sebuah peningkatan dalam jaringan kerja yang kita
berbagi dengan orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita
dan menghasilkan peningkatan rasa percaya diri kita untuk memprediksi
perilaku orang lain.
2. Face-Negotiation Theory.
Teori yang dipublikasikan Stella
Ting-Toomey ini membantu menjelaskan perbedaan –perbedaan budaya dalam
merespon konflik. Ting-Toomey berasumsi bahwa orang-orang dalam setiap
budaya akan selalu negotiating face. Istilah itu adalah metaphor citra diri publik kita, cara kita menginginkan orang lain melihat dan memperlakukan diri kita. Face work merujuk pada pesan verbal dan non verbal yang membantu menjaga dan menyimpan rasa malu (face loss), dan
menegakkan muka terhormat. Identitas kita dapat selalu dipertanyakan,
dan kecemasan dan ketidakpastian yang digerakkan oleh konflik yang
membuat kita tidak berdaya/harus terima. Postulat teori ini adalah face work orang-orang dari budaya individu akan berbeda dengan budaya kolektivis. Ketika face work adalah berbeda, gaya penangan konflik juga beragam.
Teori ini menawarkan model pengelolaan konflik sebagai berikut:
a. Avoiding (penghindaran) – saya akan menghindari diskusi perbedaan-perbedaan saya dengan anggota kelompok.
b. Obliging (keharusan) – saya akan menyerahkan pada ke kebijakan anggota kelompok.
c. Compromising – saya akan menggunakan memberi dan menerima sedemikian sehingga suatu kompromi bisa dibuat.
d. Dominating – saya akan memastikan penanganan isu sesuai kehendak-ku.
e. Integrating – saya akan menukar informasi akurat dengan anggota kelompok untuk memecahkan masalah bersama-sama.
3. Speech Codes Theory.
Teori yang dipublikaskan Gerry Philipsen ini berusaha menjawab tentang keberadaan speech code
dalam suatu budaya, bagaimana substansi dan kekuatannya dalam sebuah
budaya. Ia menyampaikan proposisi-proposisi sebagai berikut:
a. Dimanapun ada sebuah budaya, disitu diketemukan speech code yang khas.
b. Sebuah speech code mencakup retorikal, psikologi, dan sosiologi budaya.
c. Pembicaraan yang signifikan bergantung speech code yang digunakan pembicara dan pendengar untuk memkreasi dan menginterpretasi komunikasi mereka.
d. Istilah, aturan, dan premis terkait ke dalam pembicaraan itu sendiri.
e. Kegunaan suatu speech code
bersama adalah menciptakan kondisi memadai untuk memprediksi,
menjelaskan, dan mengontrol formula wacana tentang intelijenitas,
prudens (bijaksana, hati-hati) dan moralitas dari perilaku komunikasi.
Kamis, 11 Oktober 2012
Nama : Rezki apriyani
kelas : 3PA05
NPM : 15510831
Transmisi Budaya dan Biologis serta Awal Perkembangan dan Pengasuhan
Pengertian Transmisi Budaya
Pewarisan budaya dapat disamakan dengan istilah
transmisi kebudayaan. Transmisi budaya merupakan kegiatan pengiriman atau
penyebaran pesan dari generasi yang satu ke generasi yang lain tentang sesuatu
yang sudah menjadi kebiasaan dan sulit diubah. Cultural transmission is
the way a group of people or animals within
a society or culture tend to learn and pass on new
information.
Transmisi budaya dinilai sebagai suatu usaha untuk
menyampaikan sejumlah pengetahuan atau pengalaman untuk dijadikan sebagai
pegangan dalam meneruskan estafet kebudayaan. Dalam hal ini tidak ada suatu
masyarakat yang tidak melakukan usaha pewarisan budaya. Usaha pewarisan ini
bukan sekedar menyampaikan atau memberikan suatu yang material, melainkan yang
terpenting adalah menyampaikan nilai-nilai yang dianggap terbaik yang telah
menjadi pedoman yang baku dalam masyarakat.
Transmisi kebudayaan merupakan salah satu fungsi
komunikasi yang paling luas. Dikatakan demikian karena, dalam proses pewarisan
budaya kita menggunakan bahasa dan cara-cara interaktif sebagai usaha untuk
mentransfer budaya dari satu generasi ke generasi lain. Dalam proses pewarisan
budaya secara tidak langsung terjadi interaksi sosial antar individu yang
mungkin saja membahas tentang ide-ide atau gagasan suatu budaya atau dapat saja
memperkuat kesepakatan norma-norma.
Bentuk-bentuk Transmisi Budaya dan Pengaruhnya
Terhadap Perkembangan Psikologi Individu
Bentuk-bentuk transmisi budaya dapat dikatakan sebagai proses pembudayaan.
Proses pembudayaan terjadi dalam bentuk pewarisan tradisi budaya dari satu
generasi ke generasi berikutnya dan adopsi tradisi budaya oleh orang yang belum
mengetahui budaya tersebut sebelumnya. Pewarisan tradisi budaya dikenal sebagai
proses enkulturasi sedangkan adopsi tradisi budaya dikenal sebagai proses
akulturasi.
*Enkulturasi
Konsep ”enkulturasi” mengacu kepada suatu proses
pembelajaran kebudayaan (Soekanto, 1993:167). Proses pembudayaan enkulturasi
biasanya terjadi secara informal dalam keluarga, komunitas budaya suatu suku,
atau budaya suatu wilayah. Proses pembudayaan enkulturasi dilakukan oleh orang
tua atau orang yang dianggap lebih tua. Dalam proses ini, seorang individu
mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat-istiadat,
sistem norma, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses
enkulturasi sudah dimulai sejak kecil, awalnya dari orang dalam lingkungan
keluarga lalu dari teman-teman bermain. Dengan demikian pada hakikatnya setiap
orang sejak kecil sampai tua, melakukan proses enkulturasi, mengingat manusia sebagai
mahluk yang dianugerahi kemampuan untuk berpikir dan bernalar sangat
memungkinkan untuk setiap waktu meningkatkan kemampuan kognitif, afektif,
psikomotornya.
Pengaruh enkulturasi terhadap perkembangan psikologi individu sangatlah
berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan dengan internal individu, seperti
motivasi, sikapnya terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang terdekatnya,
proses perolehan keterampilan bertingkah laku, serta proses penyesuain dan
penerimaan diri berdasarkan latar belakang budayanya. Contohnya seorang anak
belajar mendisiplinkan dirinya sendiri melalui didikan orang tua mengenai waktu
belajar, waktu bermain, dan waktu istirahat. Atau seorang anak yang diajarkan
bagaimana caranya bersopan santun oleh orang tuanya.
*Akulturasi
Akulturasi adalah proses pertukaran ataupun
pengaruh-mempengaruhi dari suatu kebudayaan asing yang berbeda sifatnya,
sehingga unsur-unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun diakomodasikan dan
dintegrasikan ke dalam kebudayaan itu sendiri tanpa kehilangan kepribadiannya
sendiri (Koentjaraningrat,1990:91). Akulturasi sudah ada sejak dulu dalam
sejarah budaya manusia. Akulturasi timbul sebagai akibat adanya kontak langsung
dan terus-menerus antara kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan
yang berbeda-beda, sehingga menimbulkan adanya suatu perubahan kebudayaan yang
asli dari kedua masyarakat bersangkutan.
Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur
seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur
lain. Proses akulturasi biasanya terjadi secara formal melalui pendidikan
seseorang yang tidak tahu, diberi tahu dan disadarkan akan keberadaan suatu
budaya, dan kemudian orang tersebut mengadopsi budaya tersebut; misalnya
seseorang yang baru pindah ke tempat baru, maka ia akan mempelajari bahasa,
budaya, dan kebiasaan dari masyarakat ditempat baru tersebut, lalu ia akan
berbahasa dan berbudaya, serta melakukan kebiasaan sebagaimana masyarakat itu.
Pendidikan merupakan proses pembudayaan dan pendidikan juga dipandang
sebagai alat untuk perubahan budaya. Proses pembelajaran di sekolah merupakan
proses pembudayaan yang formal (proses akulturasi). Proses akulturasi bukan
semata-mata transmisi budaya dan adopsi budaya tetapi juga perubahan budaya.
Sebagaimana diketahui, pendidikan menyebabkan terjadinya beragam perubahan
dalam bidang sosial, budaya, ekonomi. politik, dan agama. Namun, pada saat yang
bersamaan, pendidikan juga merupakan alat untuk konservasi budaya-transmisi,
adopsi, dan pelestarian budaya. Akulturasi budaya belajar dapat terwujud
melalui kontak budaya yang bentuknya bermacam-macam antara lain : pertama,
kontak budaya belajar bisa terjadi antara seluruh anggota masyarakat atau
sebagian saja, bahkan individu-individu dari dua masyarakat. Kedua, kontak
budaya belajar berjalan melalui perdamaian diantara kedua kelompok masyarakat
yang bersahabat, maupun melalui cara permusuhan antar kelompok. Ketiga, kontak
budaya belajar timbul diantara masyarakat yang mempunyai kekuasaan, baik dalam
politik maupun ekonomi.
*Sosialisasi
Menurut Soerjono Soekanto, sosialisasi adalah suatu
proses dimana anggota masyarakat baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai
masyarakat dimana ia menjadi anggota. Maksudnya sosialisasi merupakan seluruh
proses apabila seorang individu dari masa kanak-kanak sampai dewasa berkembang,
berhubungan, mengenal dan menyesuaikan diri dengan individu-individu lain dalam
masyarakat.
Menurut Gillin dan Gillin, sosialisasi adalah proses
yang membawa individu dapat menjadi anggota yang fungsional dari suatu kelompok
yang bertingkah laku menurut standar-standar kelompok mengikuti
kebiasaan-kebiasaan kelompok tersebut atau norma kelompok. Proses sosialisasi
dalam perkembangan psikologi individu memberi pengaruh peranan-peranan individu
dimana ia berada maupun dimasyarakat luas. Dalam proses sosialisasi individu
diajarkan untuk menjalankan peranannya secara baik dan sesuai dengan standar.
Persamaan Dan Perbedaan Antar Budaya Dalam Hal
Transmisi Budaya Melalui Masa Perkembangan Individu
Kesamaan dan perbedaan transmisi budaya melalui enkulturasi dan sosialisasi
antara lain : Persamaan yang paling menonjol dari kedua proses transmisi
tersebut adalah pengenalan , pemahaman kebudayaan tertentu dimana prinsip
dasarnya memberikan informasi mengenai budaya suatu daerah terhadap budaya
lain. Proses dimana kita belajar dan menginternalisasi aturan dan pola perilaku
yang dipengaruhi oleh budaya Perbedaan antara kedua transmisi tersebut adalah
proses menyesuaikan diri terhadap budaya tersebut , dimana kita dituntut lebih
dari sekedar mengenal budaya tersebut , tapi lebih pada praktek kegiatan
budayanya.
Kesamaan dan perbedaan dalam hal transmisi budaya melalui masa remaja :
Pada masa remaja adalah masa transisi, dimana proses pencarian jati diri masih
berlangsung. Pemahaman kebudayaan remaja sangatlah penting namun transmisi
budaya pada remaja saat ini sangat sulit. Pemahaman tentang budaya itu sendiri
dapat dimengerti, namun untuk mempraktekan budaya itu sendiri kebanyakan remaja
masih kurang berminat. namun ada juga remaja yang peduli akan budaya, contoh:
penari daerah yang terus melestarikaan budayanya itu sendiri. Selain itu,
mendominasi pada pemikiran tentang kepribadian di budaya barat contohnya
amerika serikat misalnya aktualisasi diri, kesadaran diri, konsep diri,
keyakinan diri, penguatan diri, kritik diri, mementingkan diri sendiri,
meragukan diri sendiri (Lonner, 1988). Sedangkan perbedaannya yaitu dalam
budaya bukan barat seperti negara timur china, jepang dan inidia. Bersifat
kolektivistik ketimbang individualistik (Triandis, 1985, 1994).
Kesamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal transmisi budaya dalam hal
konfromitas : konformitas merupakan hasil interaksi sosial dan proses sosial
dalam kehidupan manusia bermasyarakat yang akan memunculkan perilaku-perilaku
kesepakatan (conformitas) sebagai bentuk aturan bermain bersama. Hal ini
menyangkut perilaku kepatuhan. Kesamaan ketika manusia yang hidup
bermasyarakat mematuhi peraturan atau adat istiadat yang ada dilingkungan itu
sendiri dan bisa menempatkan dirinya sesuai tempatnya. Perbedaan: ketika
manusia yang hidup bermasyarakat itu tidak mau mengikuti peraturan yang ada
dilingkungannya itu sendiri dan orang itu pun bersifat sesukanya dan tidak
memandang peraturan yang berlaku dilingkungannya.
Kesamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal transmisi budaya dalam hal
kognisi sosial : Kognisi social adalah tata cara dimana kita
menginterpretasi, menganalisa, mengingat, dan menggunakan informasi tentang
dunia social. Kognisi social dapat terjadi secara otomatis. Kesamaan: sama-sama
untuk mengetahui suatu informasi , dan biasanya langsung mencirikan bahwa orang
itu dari daerah mana. Contonya, saat kita melihat seseorang dari suatu ras
tertentu (Cina, misalnya), kita seringkali secara otomatis langsung berasumsi
bahwa orang tersebut memiliki ciri/sifat tertentu. Perbedaan: berbedaannya
kalau kognisi sosial menginterpretasi, menganalisa, mengingat, dan menggunakan
informasi tentang dunia sosial.
Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal
perilaku gender : Gender merupakan hasil konstruksi yang berkembang selama masa
anak-anak sebagaimana mereka disosialisasikan dalam lingkungan mereka. Adanya
perbedaan reproduksi dan biologis mengarahkan pada pembagian kerja yang berbeda
antara pria dan wanita dalam keluarga. Perbedaan-perbedaan ini pada gilirannya
mengakibatkan perbedaan ciri-ciri sifat dan karakteristik psikologis yang
berbeda antara pria dan wanita. Faktor-faktor yang terlibat dalam memahami
budaya dan gender tidak statis dan unidimensional. Keseluruhan sistem itu
dinamis dan saling berhubungan dan menjadi umpan balik atau memperkuat sistem
itu sendiri. Sebagai akibatnya sistem ini bukan suatu unit yang linear dengan
pengaruh yang berlangsung dalam satu arah, dan semua ini diperoleh dalam
kehidupan kita sendiri. Sebagai konsekuensinya, budaya yang berbeda akan
memberikan hasil yang berbeda pula. Satu budaya mungkin mendukung kesamaan
antara pria dan wanita, namun budaya lainnya tidak mendukung kesamaan tersebut.
Dengan demikian budaya mendefinisikan atau memberikan batasan mengenai peran,
kewajiban, dan tanggung jawab yang cocok bagi pria dan wanita.
Berry, John W. 1999. Psikologi
Lintas Budaya. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Haviland, William A. 1995. Antropologi Jilid 1. Surakarta: Erlangga
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_antarbudayaTugas Lintas Budaya Individu
Nama : rezki apriyani
kelas : 3PA05
NPM : 15510831
1.Pengertian Psikologi Lintas Budaya
Budaya
dalam kehidupan manusia adalah hal yang dekat dan melekat padanya.
Budaya merupakan hasil karya manusia, lahir untuk manusia dalam mengatur
dan mendukung kehidupannya. Tujuan menjadikan kehidupan ini menjadi
lebih baik adalah keadaan akhir yang diinginkan tersebut. Kelly
mendefinisikan budaya sebagai bagian yang terlibat dala7hm proses
harapan-harapan yang dipelajari/dialami. Orang-orang yang memiliki
kelompok budaya yang sama akan mengembangkan cara-cara tertentu dalam
mengonstruk peristiwa-peristiwa, dan mereka pun mengembangkan
jenis-jenis harapan yang sama mengenai jenis-jenis perilaku tertentu.
Budaya
telah menjadi perluasan topik ilmu psikologi di mana mekanisme berpikir
dan bertindak pada suatu masyarakat kemudian dipelajari dan
diperbandingkan terhadap masyarakat lainnya. Psikologi lintas budaya
adalah cabang dari psikologi yang (terutama) menaruh perhatian pada
pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan
mempelajari orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda. Di dalam
kajiannya, terdapat pula paparan mengenai kepribadian individu yang
dipandang sebagai hasil bentukan sistem sosial yang di dalamnya tercakup
budaya. Adapun kajian lintas budaya merupakan pendekatan yang digunakan
oleh ilmuan sosial dalam mengevaluasi budaya-budaya yang berbeda dalam
dimensi tertentu dari kebudayaan. Psikologi Lintas Budaya ini muncul
sebagai respon terhadap teori psikologi yang dikembangkan di Barat dalam
satu kebudayaan bersifat universal. Padahal manusia diciptakan tidak
bersifat universal melainkan bersifat lokal, hidup bersuku-suku dan
berbangsa-bangsa dan memiliki budaya sendiri. Oleh karena itu Psikologi
Lintas Budaya ini membahas tentang konsep psikologi lintas budaya, ruang
lingkup psikologi lintas budaya, pewarisan dan perkembangan budaya,
budaya dan diri, perilaku sosial, emosi, kepribadian, kognisi, persepsi,
akulturasi budaya, dan kelompok-kelompok etnik.
Beberapa ahli mengemukakan pandangan mengenai pengertian Psikologi Lintas Budaya, diantaranya :
a. Segall, Dasen, dan Poortinga (1990)
Psikologi
Lintas Budaya adalah kajian ilmiah mengenai perilaku manusia dan
penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan
dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya.
b b. Brislin, Lonner, dan Thorndike (1973)
Psikologi
Lintas Budaya ialah kajian empirik mengenai anggota berbagai kelompok
budaya yang telah memiliki perbedaan pengalaman, yang dapat membawa ke
arah perbedaan perilaku yang dapat diramalkan dan signifikan.
Tujuan
dari kajian psikologi Lintas Budaya adalah mencari persamaan dan
perbedaan dalam fungsi-fungsi individu secara psikologis, dalaam
berbagai budaya dan kelompok etnik.
Psikologi
lintas budaya sama seperti dengan Psikologi budaya mencoba mempelajari
bagaimana faktor budaya dan etnis mempengaruhi perilaku manusia. Namun
psikologi lintas budaya tidak hanya mempelajari faktor budaya dengan
prilaku tetapi faktor antar budaya atau perbedaan budaya yang
mempengaruhi prilaku manusia.
Psikologi
Sosial mempelajari tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan
masyarakat sekitarnya. Psikologi lintas budaya juga sama mempelajari
individu dengan masyarakat selain itu juga mempelajari individu dengan
atar masyarakat yang berbeda. Ruang Lingkup Antropologi psikologi sama
dengan pengakajian secara psikologi lintas budaya (cross cultural)
mengenai kepribadian dan sistem sosial budaya. Meliputi masalah-masalah
sebagai berikut :
A. Hubungan struktur sosial dan nilai-nilai budaya dengan pola pengasuhan anak pada umumnya.
B. Hubungan antara struktur kepribadian rata dengan sistem peran (role system) dan aspek proyeksi dari dari kebudayaan.
B. Hubungan antara struktur kepribadian rata dengan sistem peran (role system) dan aspek proyeksi dari dari kebudayaan.
4. Artikel
ETNOSENTRISME DALAM PSIKOLOGI
Pengertian :
Menurut
Matsumoto (1996) etnosentrisme adalah kecenderungan untuk melihat dunia
hanya melalui sudut pandang budaya sendiri. Etnosentrisme memiliki dua
tipe yang satu sama lain saling berlawanan. Tipe pertama adalah
etnosentrisme fleksibel. Seseorang yang memiliki etnosentrisme ini dapat
belajar cara-cara meletakkan etnosentrisme dan persepsi mereka secara
tepat dan bereaksi terhadap suatu realitas didasarkan pada cara pandang
budaya mereka serta menafsirkan perilaku orang lain berdasarkan latar
belakang budayanya. Tipe kedua adalah etnosentrisme infleksibel.
Etnosentrisme ini dicirikan dengan ketidakmampuan untuk keluar dari
perspektif yang dimiliki atau hanya bisa memahami sesuatu berdasarkan
perspektif yang dimiliki dan tidak mampu memahami perilaku orang lain
berdasarkan latar belakang budayanya.
ENKULTURASI DAN SOSIALISASI
PENGERTIAN SOSIAL BUDAYA
Sosialisasi adalah; Proses pembelajaran terhadap norma-norma yang berlaku shg dapat berperan dan diakui oleh kelompok masyarakat
Proses
sosialisasi. Proses ini bersangkutan dengan proses belajar kebudayaan
dalam hubungan dengan sistem sosial. Dalam proses itu seorang individu
dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam
interaksi dengan segala macam individu di sekililingnya yag menduduki
beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan
sehari-hari.
Enkulturasi
adalah proses pengenalan norma yang berlaku di masyarakat. Proses
Enkulturasi. Dalam proses ini seorang individu mempelajari dan
menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat-istiadat, sistem
norma, serta peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Kata
enkulturasi dalam bahas Indonesia juga berarti “pembudayaan”. Sorang
individu dalam hidupnya juga sering meniru dan membudayakan berbagai
macam tindakan setelah perasaan dan nilai budaya yang memberi motivasi
akan tindakan meniru itu telah diinternalisasi dalam kepribadiannya.
M.J.Herskovits berpendapat bahwa perbedaan antar enculturation (enkulturasi) dengan socialization (sosialisasi) adalah sebagai berikut ;
M.J.Herskovits berpendapat bahwa perbedaan antar enculturation (enkulturasi) dengan socialization (sosialisasi) adalah sebagai berikut ;
1.
Enculturation (enkulturasi) adalah suatu proses bagi seorang baik
secara sadar maupun tidak sadar, mempelajari seluruh kebudayaan
masyarakat.
2.
Socialization (sosialisasi) adalah suatu proses bagi seorang anak untuk
menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku dalam keluarganya.
Secara
singkat perbedaan antara enkulturasi dan sosialisasi adalah dalam
enkulturasi seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam
pikirannya dengan lingkungan kebudayaannya, sedangkan sosialisaasi si
individu melakukan proses penyesuaian diri dengan lingkungan sosial.
PERKEMBANGAN MORAL
PERKEMBANGAN MORAL
Teori piaget
Dalam
bukunya The moral judgement of the Child (1923) Piaget menyatakan bahwa
kesadaran moral anak mengalami perkembangan dari satu tahap yang lebih
tinggi. Pertanyaan yang melatar belakangi pengamatan Piaget adalah
bagaimana pikiran manusia menjadi semakin hormat pada peraturan. Pertama
kesadaran akan peraturan (sejauh mana peraturan dianggap sebagai
pembatasan) dan kedua, pelaksanaan dari peraturan itu. Dan melalui
perkembangan umur maka orientasi perkembangan itupun berkembang dari
sikap heteronom ( bahwasannya peraturan itu berasal dari diri orang
lain) menjadi otonom 9 dari dalam diri sendiri. Pada tahap heteronom
anak-anak menggangap bahwa peraturan yang diberlakukan dan berasal dari
bukan dirinya merupakan sesuatu yang patut dipatuhi, dihormati, diikuti
dan ditaati oleh pemain. Pada tahap otonom, anak-anak beranggapan bahwa
perauran-peraturan merupakan hasil kesepakatan bersama antara para
pemain.
Pada
usia 11 sampai 12 tahun kemampuan anak untuk berfikir abstrak mulai
berkembang. Pada umur umur itu, kodifikasi ( penentuan) peraturan sudah
dianggap perlu. Kadang-kadang mereka lebih asyik tertarik pada soal-soal
peraturan daripada menjalankan permainannya sendiri.
Kohlberg kemudian mampu mengidentifikasi 6 (enam) tahap dalam moral reasoning yang kemudian dibagi dalam tiga taraf.
Kohlberg kemudian mampu mengidentifikasi 6 (enam) tahap dalam moral reasoning yang kemudian dibagi dalam tiga taraf.
1. Taraf Pra-Konvensional
2. Conventional Level ( taraf Konvensional)
3) Tahap interpersonal corcodance atau “good boy-nice girl” orientation.
4) Tahap law and order, orientation
5) Postoonventional Level ( taraf sesudah konvensional)
6) Social contract orientation
Kemampuan
berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang
karena mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan
antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada di
sekitarnya. Mereka lalu merasa perlu mempertanyakan dan merekonstruksi
pola pikir dengan “kenyataan” yang baru. Perubahan inilah yang
seringkali mendasari sikap “pemberontakan” remaja terhadap peraturan
atau otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat. Misalnya, jika sejak
kecil pada seorang anak diterapkan sebuah nilai moral yang mengatakan
bahwa korupsi itu tidak baik.pada masa remaja ia akan mempertanyakan
mengapa dunia sekelilingnya membiarkan korupsi itu tumbuh subur bahkan
sangat mungkin korupsi itu dinilai baik dalam suatu kondisi tertentu.
Hal ini tentu saja akan menimbulkan konflik nilai bagi sang remaja.
Konflik nilai dalam diri remaja ini lambat laun akan menjadi sebuah
masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan keluarnya. Kemungkinan
remaja untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai yang ditanamkan oleh
orangtua atau pendidik sejak masa kanak-kanak akan sangat besar jika
orangtua atau pendidik tidak mampu memberikan penjelasan yang logis,
apalagi jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung penerapan nilai-nilai
tersebut.
Peranan
orangtua atau pendidik sangat besar dalam memberikan alternatif jawaban
dari hal hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya
KONFORMITAS
1.Pengertian
Konformitas berarti penyesuaian diri dengan masyarakat dengan cara mengindahkan norma dan nilai masyarakat.( Soerjono Soekanto, 2000 ).
1.Pengertian
Konformitas berarti penyesuaian diri dengan masyarakat dengan cara mengindahkan norma dan nilai masyarakat.( Soerjono Soekanto, 2000 ).
Muzafer
Sherif (1966) yang dikutip oleh Zanden (1979) melakukan eksperimen di
Columbia University, para subyek penelitian adalah 2 orang mahasiswa yg
diminta memperkirakan jarak gerak suatu titik cahaya di layar dalam
suatu ruang gelap. Di kala eksperimen dilakukan dengan masing-masing
subjek secara terpisah, jawaban-jawaban yang diberikan cenderung berbeda
satu dengan yang lain. Namun manakala eksperimen dilakukan dengan
beberapa orang subyek sekaligus dan para subjek dimungkinkan untuk
saling mempengaruhi, maka jawaban subyek cenderung sama.Dari eksperimen
ini Sherif menyimpulkan bahwa dalam situasi kelompok orang cenderung
membentuk suatu norma sosial.
Dari hal itu pula disimpulkan bahwa menurut M. Sherif, konformitas berarti keselarasan,kesesuaian perilaku individu-individu anggota masyarakat dengan harapan-harapan masyarakatnya, sejalan dengan kecenderungan manusia dalam kehidupan berkelompok membentuk norma sosial.
Dari hal itu pula disimpulkan bahwa menurut M. Sherif, konformitas berarti keselarasan,kesesuaian perilaku individu-individu anggota masyarakat dengan harapan-harapan masyarakatnya, sejalan dengan kecenderungan manusia dalam kehidupan berkelompok membentuk norma sosial.
Contoh
: Pola memberi sumbangan, pelanggaran lalu lintas, dll. Dari uraian
mengenai berbagai pengertian “konformitas” di atas, dapat disimpulkan
bahwa konformitas adalah suatu bentuk sikap penyesuaian diri seseorang
dalam masyarakat/kelompok karena dia terdorong untuk mengikuti
kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang sudah ada.
Persamaannya :
Semua
masyarakat yg melakukan konformitas karena ingin di terima sebagai
anggota atau bagian dr suatu kelompok, agar tidak dianggap salah.
Perbedaan :
Beragamnya
suku dan budaya dan adat istiadat yang dijalankan buat individu menjadi
berbeda beda sesuai dengan keyakinan yang dijalanin.
Dilihat dari Konteksnya :
Dalam
situasi konformitas, individu mempunyai suatu pandangan dan kemudian
menyadari bahwa kelompoknya menganut pandangan yang bertentangan.
Individu ingin memberikan informasi yang tepat. Oleh karena itu, semakin
besar kepercayaan individu terhadap kelompok sebagai sumber informasi
yang benar, semakin besar pula kemungkinan untuk menyesuaikan diri
terhadap kelompok.
Dilihat dari konteks masyarakat:
Teori
dan metodologi tersebut diujikan untuk penghitungan kemampuan kognitif
secara spesifik dalam suatu kontek budaya dengan menggunakan kontek
kognisi yang di sebut sebagai Contextualized cognition. Untuk memperkuat
pendekatan mereka, cole membuat suatu studi empiris dan tunjauan
terhadap literatur.
Dilihat dari Gender
Adanya
perbedaan reproduksi dan biologis mengarahkan pada pembagian kerja yang
berbeda antara pria dan wanita dalam keluarga. Perbedaan-perbedaan ini
pada gilirannya mengakibatkan perbedaan ciri-ciri sifat dan
karakteristik psikologis yang berbeda antara pria dan wanita.
Faktor-faktor yang terlibat dalam memahami budaya dan gender tidak
statis dan unidimensional. Keseluruhan sistem itu dinamis dan saling
berhubungan dan menjadi umpan balik atau memperkuat sistem itu sendiri.
Sebagai akibatnya sistem ini bukan suatu unit yang linear dengan
pengaruh yang berlangsung dalam satu arah, dan semua ini diperoleh dalam
kehidupan kita sendiri. Dengan demikian budaya mendefinisikan atau
memberikan batasan mengenai peran, kewajiban, dan tanggung jawab yang
cocok bagi pria dan wanita.
Dilihat dari segi Kognisi Sosial:
Dalam
psikologi, kognitif adalah referensi dari faktor-faktor yang mendasari
sebuah prilaku. Kognitif juga merupakan salah satu hal yang berusaha
menjelaskan keunikan manusia. Pola pikir dan perilaku manusia bertindak
sebagi aspek fundamental dari setiap individu yang tak lepas dari konsep
kemanusiaan yang lebih besar, yaitu budaya sebagai konstruksi sosial.
Sedangkan kebudayaan (culture) dalam arti luas merupakan kreativitas
manusia (cipta, rasa dan karsa) dalam rangka mempertahankan
kelangsunganhidupnya
Dalam hal individualis:
Diri
adalah terpisah dari orang lain dan lingkungan. Budaya dengan diri
individual mendesain dan mengadakan seleksi sepanjang sejarahnya untuk
mendorong kemandirian sertiap anggotanya. Mereka didorong untuk
membangun konsep akan diri yang terpisah dari orang lain, termasuk dalam
kerangka tujuan keberhasilan yang cenderung lebih mengarah pada tujuan
diri individu.
KOLEKTIVITAS
kolektif ini, nilai keberhasilan dan harga diri adalah apabila individu tersebut mampu memenuhi kebutuhan komunitas dan menjadi bagian penting dalam hubungan dengan komunitas. Kolektivitas yaitu budaya , budaya yang mempengaruhi segala aspek aspek dalam budaya.
KOLEKTIVITAS
kolektif ini, nilai keberhasilan dan harga diri adalah apabila individu tersebut mampu memenuhi kebutuhan komunitas dan menjadi bagian penting dalam hubungan dengan komunitas. Kolektivitas yaitu budaya , budaya yang mempengaruhi segala aspek aspek dalam budaya.
Daftar Pustaka
Koentjaraningrat (2002). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta : Gramedia
Matsumoto, D. (2002). Culture, psychology, and education. In W. J. Lonner, D. L. Dinnel, S. A.
Hayes, & D. N. Sattler (Eds.), Online Readings in Psychology and
Culture (Unit 2, Chapter 5),
(http://www.ac.wwu.edu/~culture/index-cc.htm), Center for Cross-Cultural
Research, Western Washington University, Bellingham, Washington USA
Triandis, H.C. (1994). Culture and Social Behavior. New York : McGraw-Hill.
Etika Individual Pola Dasar Filsafat Moral. Karangan Drs. H.
Burhanuddin,MM. Penerbit Rineka Cipta ISBN : 979-518-761-9 Tahun terbit
1997
Rabu, 21 Maret 2012
broken home mempengaruhi kesehatan mental
Broken Home mempengaruhi kesehatan mental
Sehat atau tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak sehat mental.
Sehat atau tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak sehat mental.
Dengan menggunakan orientasi penyesuaian diri, pengertian sehat mental tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada hubungan antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam masyarakat tertentu digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi dianggap sangat sehat mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau sakit mental bukan sesuatu yang absolut.
Berdasarkan orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental memiliki pengertian kemampuan seseorang untuk dapat menyesuaikan diri sesuai tuntutan kenyataan di sekitarnya. Tuntutan kenyataan yang dimaksud di sini lebih banyak merujuk pada tuntutan yang berasal dari masyarakat yang secara konkret mewujud dalam tuntutan orang-orang yang ada di sekitarnya. M. Jahoda, seorang pelopor gerakan kesehatan mental, memberi definisi kesehatan mental yang rinci. Dalam definisinya, “kesehatan mental adalah kondisi seseorang yang berkaitan dengan penyesuaian diri yang aktif dalam menghadapi dan mengatasi masalah dengan mempertahankan stabilitas diri, juga ketika berhadapan dengan kondisi baru, serta memiliki penilaian nyata baik tentang kehidupan maupun keadaan diri sendiri.”
Penentu penyesuaian dalam kaitannya dengan dinamika perilaku
Teori Fisiologis
Berdasarkan orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental memiliki pengertian kemampuan seseorang untuk dapat menyesuaikan diri sesuai tuntutan kenyataan di sekitarnya. Tuntutan kenyataan yang dimaksud di sini lebih banyak merujuk pada tuntutan yang berasal dari masyarakat yang secara konkret mewujud dalam tuntutan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Motivasi manusia bagian dari determinan psikologis, karena kebutuhan manusia dan motivasi memiliki banyak kaitannya dengan program penyesuaian. Hal yang lebih penting adalah kebutuhan dan faktor-faktor motivasi-dinamis yang mendasari perilaku memiliki hubungan istimewa untuk penyesuaian dan kesehatan mental. Hubungan ini lebih akrab dan lebih mendasar dari sebagian besar dari yang sudah dijelaskan, karena tujuan penting dan isi dari perilaku remedial ditentukan oleh kebutuhan dan motivasi. Tujuan utama adalah tanggapan korektif, sebuah sudut pandang, untuk membangun hubungan yang memadai antara tubuh dan kenyataan, dan titik lain yang lebih fundamental, tujuannya adalah ekspresi dan pemuasan faktor dinamis dalam personal yang mengurangi ketegangan, frustrasi dan konflik yang menimbulkan faktor-faktor ini. Dalam mencapai tujuan ini, isi dan respon perilaku biasanya ditentukan oleh sifat motivasi dan kualitas situasi.
· Perilaku penyesuaian dan kebutuhan dasar
Apakah semua perilaku penyesuaian berorientasi pada pengurangan kebutuhan dasar dan motivasi? Pertama, kategori besar dari reaksi, psikologis dan neuromuskuler dalam kepribadian,diistilahkan "adaptive" lebih tepat daripada istilah "adjustive". Dalam kategori ini termasuk fungsi peredaran darah, pencernaan, pernapasan dan pembuangan Hal ini memiliki hubungan motivasi intrinsik. Kedua, ada respon yang muncul dan difokuskan pada penurunan atau pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk dorongan psikologis seperti lapar dan seks dan sifat-sifat psikologis atau sosial dalam diri, seperti keamanan dan pengakuan. Tanggapan ini muncul untuk beradaptasi lebih baik dengan konsep penyesuaian seperti yang digunakan dan diinterpretasikan dalam pemikiran psikologis. Kebutuhan merupakan persyaratan internal dan penyesuaian diinterpretasikan secara konsisten untuk merespon tuntutan bahwa organisme harus menghadapi kehidupan sehari-hari.
Namun ada persyaratan lain dari sumber eksternal, organisme diharapkan dapat memecahkan oleh organisasi perilaku yang baik, korektif. Seperti, kehidupan keluarga, perkawinan, pekerjaan, kehidupan sosial, kehidupan militer dan pendidikan yang harus dipenuhi secara memadai dan efektif, wajar untuk mengatakan bahwa organisme melakukan penyesuaian. Dalam kasus ini, perilaku merupakan kebiasaan alami yang muncul secara sukarela, bukan inisiatif. Jadi semua respon dikendalikan untuk memenuhi kebutuhan internal atau eksternal.
TEORI MOTIVASI
Interpretasi dari karakter dan tujuan respon manusia dan hubungannya dengan penyesuaian tergantung kedudukannya dengan sifat motivasi. Misalnya, semua motivasi terutama seksual atau unconscious, tetap menjadi point utama, maka semua perilaku, normal atau abnormal, harus dianggap sebagai upaya kolektif untuk mengurangi ketegangan, konflik dan frustrasi yang ditimbulkan oleh motivasi.
Tujuan utama perilaku yaitu untuk menyeimbangkan kekuatan antara organisme dengan lingkungan atau realitas, dengan kata lain, semua perilaku adalah penyesuaian. Tapi, kita perlu sedikit mempertimbangkan kerumitan dari teori motivasi manusia.
Teori Stimulus-Respon
Menurut hipotesis ini, semua perilaku ditentukan oleh rangsangan; kebutuhan, impuls, keinginan, motif, dan sebagainya, yang bahkan tidak ada. Semua perilaku dianggap refleksif atau hasil dari pengkondisian, sehingga perilaku refleks dan kebiasaan merupakan kategori respon manusia sepenuhnya.
Teori Fisiologis
Hipotesis fisiologis motivasi manusia, berhubungan erat dengan sudut pandang stimulus-respon, tidak banyak perbaikan. Penurunan dari semua motivasi fisiologis, ketegangan, atau ketidakseimbangan disebabkan kesalahan mengenai penyederhanaan sebagai gagasan bahwa semua tanggapan ditentukan oleh rangsangan. Kebutuhan fisiologis, keinginan, motif, dan tujuan, yang semuanya sangat signifikan terhadap penyesuaian, harus diintegrasikan ke dalam setiap teori motivasi, dan hipotesis fisiologis ini tidak dapat dilakukan, karena alasan sederhana, bahwa ia tidak memberikan peluang bagi mereka. Jadi, menurut Symonds, "semua perilaku muncul dari penurunan kebutuhan organik, apakah gizi berkurang dalam tubuh, kebutuhan mengekskresikan produk limbah, rangsangan kimiawi atau alat kelenjar dalam darah dan jaringan, atau melindungi organisme dari cedera. Untuk memahami keunikan dan seluk-beluk penyesuaian diri dan kesehatan mental, kita harus memahami selain kebutuhan fisiologis organisme. Signifikansi yang jauh lebih besar adalah kebutuhan psikologis dan sosial, keinginan dan emosi, kompleks dan mekanisme, motif dan sikap yang mendasari tanggapan manusia. Faktor-faktor ini bukan dari fisiologis merupakan dinamika perilaku penyesuaian yang nyata.
Kesimpulan
Berdasarkan orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental memiliki pengertian kemampuan seseorang untuk dapat menyesuaikan diri sesuai tuntutan kenyataan di sekitarnya. Tuntutan kenyataan yang dimaksud di sini lebih banyak merujuk pada tuntutan yang berasal dari masyarakat yang secara konkret mewujud dalam tuntutan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Ada beberapa teori motivasi yang mendukung penyesuaian seperti teori teori stimulus respon, fisologis, naluri, motivasi sadar, dan hedonistic,
Selain itu, kebutuhan psikologis manusia terdiri dari kebutuhan untuk disayangi dan dimiliki, keamanan dan status, perhatian, kebebasan, prestasi dan pengalaman. Kebutuhan sosial dan penyesuaian emosional pun saling singkron.
Kebutuhan Sosial dan Penyesuaian membutuhkan partisipasi, pengakuan, persetujuan sosial, dan kesesuaian. Disamping kebutuhan, nilai juga sebagai penentu persepsi. Dan kebutuhan rohani sangat berhubungan erat dengan dengan kebutuhan psikologis
Kesehatan mental
Definisi kesehatan mental
Pengertian mengenai kesehatan beragam ungkapnya. Berikut ini adalah beberapa pengertian tersebut:
1. Kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa ( neurose )
2. Kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan dimana dia hidup dan berinteraksi.
3. Kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain serta dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa.
4. Kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan diri.
Ini adalah pengertian menurut : Dr. Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, 1994, CV HAJI SAMAAGUNG ; Jakarta.
Jadi dalam hal ini Kesehatan mental dapat dirangkum. Kesehatan mental adalah keserasian atau kesesuaian antara seluruh aspek psikologis dan dimiliki oleh seorang untuk dikembangkan secara optimal agar individu mampu melakukan kehidupan-kehidupan sesuai dengan tuntutan-tuntutan atau nilai-nilai yang berlaku secara individual, kelompok maupun masyarakat luas sehingga yang sehat baik secara mental maupun secara sosial.
Pengertian mengenai kesehatan beragam ungkapnya Pengertian sehat atau kesehatan menurut dokter mungkin sedikit banyak akan berbeda dengan perawat, fisioterapi, apoteker atau tenaga peramedis lainnya. Meskipun mereka bersama-sama mengabdi pada bidang kesehatan. Adapun pengertian tentang kesehatan :
• Dalam indeks buku The International Dictionary Of Medicine and Biology (Freund.1991) mendefinisikan kesehatan sebagai suatu kondisi yang dalam keadaan baik dari suatu organisme atau bagiannya yang dirincikan oleh fungsi yang normal dan tidak adanya penyakit.
• WHO mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental ( rohani ) dan social, bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan.(Smeet. 1994).
• Pembahasan mengenai konsep kesehatan lebih difokuskan pada model-model kesehatan yang muncul. Model-model kesehatan itu antara lain model barat dan model timur.
Menurut Eisenberg (Helman, 1990) yang dimaksud dengan model adalah cara merekontruksi realita, memberikan makna kepada fenomena-fenomena alam yang pada dasarnya bersifat chaos. Model kesehatan barat dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu model biomedis atau sering disebut sebagai model medis ( Joesoet, 1990; Freund, 1991; Helman, 1990; Tamm, 1993), model spikiatris (Helman, 1990) dan model psikosomatis (Tamm, 1993) sedangkan model kesehatan timur umumnya disebut model kesehatan holistic (Joesoet, 1990) yang menekankan pada keseimbangan (Helman,1990).
Model biomedis (Freud, 1991) memiliki 5 asumsi.
1.Terdapat perbedaan yang nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian tubuh tertentu.
2.Bahwa penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh, entah secara biokimia atau neurofisiologi.
3.Keyakinan bahwa setiap penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang secara potensial dapat didefinisikan.
4.Melihat tubuh sebagai suatu mesin.
5.Konsep bahwa obyek yang perlu diatur dan dikontrol.
Asumsi ini merupakan kelanjutan dari asumsi bahwa tubuh adalah suatu mesin yang perlu mendapatkan pemeliharaan.
Model psikosometik menyatakan penyakit berkembang melalui saling terkait secara berkesinambungan antara factor fisik dan mental yang saling memperkait satu sama lain melalui jaringan yang kompleks.
Holisme dalam arti yang sempit melihat organisme manusiawi sebagao suatu system kehidupan yang semua kompenennya saling terkait dan saling tergantung. Sementara menurut arti luas pandangan holistis menyadari bahwa system tersebut merupakan suatu bagian integral dari system-sistem yang luas dimana organisme individu berinterksi terus menerus dengan lingkungan fisik dan sosialnya yaitu tetap terpengaruh oleh lingkungan.
Seseorang dikatakan sehat tidak cukup dilihat hanya dari segi fisik, psikologis dan sosial saja, tapi juga harus dilihat dari segi spiritual dan agama.
Inilah yang kemudian disebut Dadang Hawari sebagai dimensi sehat itu, yaitu : Bio-psiko-sosial-spiritual. Jadi seseorang yang sehat mentalnya tidak hanya sebatas pengertian terhindarnya dia dari gangguan dan penyakit jiwa baik neurosis maupun psikosis, melainkan patut pula dilihat sejauh mana seseorang itu mampu menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, mampu mengharmoniskan fungsi-fungsi jiwanya, sanggup mengatasi problem hidup termasuk kegelisahan dan konflik batin yang ada, serta sanggup mengaktualisasikan potensi dirinya untuk mencapai kebahagiaan.
Istilah kesehatan mental sendiri memperoleh pengertian yang beragam seiring perkembangannya :
1. Sebagai kondisi atau keadaan sebagaimana gambaran diatas.
2. Sebagai ilmu pengetahuan cabang dari ilmu psikologi yang bertujuan mengembangkan potensi manusia seoptimal mungkin dan menghindarkannya dari gangguan dan penyakit kejiwaan.
Seseorang dapat berusaha memelihara kesehatan mentalnya dengan menegakkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, yaitu :
1. Mempunyai self image atau gambaran dan sikap terhadap diri sendiri yang positif.
2. Memiliki interaksi diri atau keseimbangan fungsi-fungsi jiwa dalam menghadapi problema hidup termasuk stress..
3. Mampu mengaktualisasikan secara optimal guna berproses mencapai kematangan.
4. Mampu bersoiallisasi dan menerima kehadiran orang lain
5. Menemukan minat dan kepuasan atas pekerjaan yang dilakukan
6. Memiliki falsafah atau agama yang dapat memberikan makna dan tujuan bagi hidupnya.
7. Mawas diri atau memiliki control terhadap segala kegiatan yang muncul
8. Memiliki perasaan benar dan sikap yang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya.
Manusia sebagai mahkluk yang memiliki banyak keterbatasan kerap kali mengalami perasaan yang takut, cemas, sedih, bimbang dan sebagainya. Dalam psikologi gangguan atau penyakit jiwa akrab di isitilahkan dengan psikopatologi. Ada dua macam psikopatologi :
1. Neurosis
2. Psikosis.
Sementara dari H. Tarmidzi membagi psikopatologi menjadi 6 macam, selain 2 yang sudah disebutkan diatas dia mengemukakan yang lainnya : Psikomatik, kelainan kepribadian, deviasi seksual, dan retardasi mental.
Neurosis adalah gangguan jiwa yang penderitanya masih menyadari atas kondisi dirinya yang tengah terganggu. Sedangkan psikosis adalah penyakit jiwa yang parah , yang ditingkatkan ini penderita tidak lagi sadar akan dirinya.
Dengan demikian penyakit adalah suatu yang dimiliki organ, sedangkan penyakit illness adalah suatu yang dimiliki manusia yaitu respon subjektif pasien dan segala suatu yang meliputinya.
Menurut Cassell, Kleininan’s (Freund, 1991) mendefinisikan disease mengacu peda kondisi biofisik – masalah seperti yang dilihat dari perspektif praktisi biomedis. Sebaliknya illness mengacu pada bagaimana orang yang sakit dan anggota keluarganya atau jaringan social yang lebih luas merasakannya, dan bereaksi terhadap simtom-simtom dan ketidakmampuannya.
Kategori atau Penggolongan Kesehatan Mental
1.Gangguan Somatofarm
Gejalanya bersifat fisik, tetapi tidak terdapat dasar organic dan factor-faktor psikologis.
2.Gangguan Disosiatif
Perubahan sementara fungsi-fungsi kesadaran, ingatan, atau identitas yang disebabkan oleh masalah emosional.
3.Gangguan Psikoseksual
Termasuk masalah identitas seksual (impotent, ejakulasi, pramatang, frigiditas) dan tujuan seksual.
4.Kondisi yang tidak dicantumkan sebagai gangguan jiwa.
Mencakup banyak masalah yang dihadapi orang-orang yang membutuhkan pertolongan seperti perkawinan, kesulitan orang tua, perlakuan kejam pada anak.
5.Gangguan kepribadian
Pola prilaku maladaptik yang sudah menahun yang merupakan cara-cara yang tidak dewasa dan tidak tepat dalam mengatasi stres atau pemecahan masalah.
6.Gangguan yang terlihat sejak bayi, masa kanak-kanak atau remaja.
Meliputi keterbelakangan mental, hiperaktif, emosi pada kanak-kanak, gangguan dalam hal makan.
7.Gangguan jiwa organik
Terdapat gejala psikologis langsung terkait dengan luka pada otak atau keabnormalan lingkungan biokimianya sebagai akibat dari usia tua dan lain-lain.
8.Gangguan penggunaan zat-zat
Penggunaan alkohol berlebihan, obat bius, anfetamin, kokain, dan obat-obatan yang mengubah prilaku.
9.Gangguan Skisofrenik
Serangkaian gangguan yang dilandasi dengan hilangnya kontak dengan realitas, sehingga pikiran, persepsi, dan prilaku kacau dan aneh.
10.Gangguan Paranoid
Gangguan yang ditandai dengan kecurigaan dan sifat permusuhan yang berlebihan disertai perasaan yang dikejar-kejar.
11.Gangguan Afektif
Gangguan suasana hati (mood) yang normal, penderita mungkin mengalami depresi yang berat, gembira yang abnormal, atau berganti antara saat gembira dan depresi.
12.Gangguan Kecemasan
Gangguan dimana rasa cemas merupakan gejala utama atau rasa cemas dialami bila individu tidak menghindari situasi-situasi tertentu yang ditakuti.
CONTOH-CONTOH PERILAKU MENYIMPANG
1.Kleptomania (mencuri terpaksa)
Dalam hal ini orang terpaksa mencuri barang orang lain. Sebenarnya ia merasa gelisah dengan perlakuan mencuri itu, akan tetapi ia tidak dapat menghindarkan dirinya dari tindakan itu, walaupun barang-barang tersebut tidak dibutuhkannya.
Yang banyak menderita gejala ini adalah anak-anak karena orangtuanya terlalu keras, disiplin atau kurang memperhatikan.
Contohnya: seorang anak yang memiliki cukup uang mencoba mencuri disebuah toko, anehnya barang-barang yang dicuri tersebut tidak digunakan akan tetapi dibagi-bagikan kepada temannya dan tidak jarang barang-barang tersebut disimpan sebagai koleksi.
2.Fetishism
Pada gejala ini orang terpaksa mengumpulkan dan menyimpan barang-barang kepunyaan orang lain dari seks yang berlainan. Misalnya seorang laki-laki yang suka menyimpan saputangan, sepatu atau rambut wanita yang baginya mempunyai arti atau nilai seksuil dalam perasaannya.
3.Compusife (yang berhubungan dengan seksuil)
Gejala ini ada 2 macam yaitu:
Ingin tahu tentang kelamin dari orang berlainan seks
Ingin memamerkan kelamin sendiri
Dalam hal yang pertama seseorang akan berusaha untuk melihat atau memperhatikan bentuk tubuh dan kelamin orang lain dengan berbagai cara atau juga memegang-megangnya. Dalam hal ini yang kedua oaring merasa terdorong untuk memamerkan tubuh dan kelaminnya tanpa merasa malu.
Pada umumnya gejala tersebut diakibatkan oleh pengalaman yang tidak menyenangkan waktu kecil atau mungkin pula sebagai ungkapan dari keinginan yang tertekan yang pelaksanaannya dan merasa takut kalau keinginannya itu terasa kembali.
Pengertian mengenai kesehatan beragam ungkapnya. Berikut ini adalah beberapa pengertian tersebut:
1. Kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa ( neurose )
2. Kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan dimana dia hidup dan berinteraksi.
3. Kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain serta dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa.
4. Kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan diri.
Ini adalah pengertian menurut : Dr. Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, 1994, CV HAJI SAMAAGUNG ; Jakarta.
Jadi dalam hal ini Kesehatan mental dapat dirangkum. Kesehatan mental adalah keserasian atau kesesuaian antara seluruh aspek psikologis dan dimiliki oleh seorang untuk dikembangkan secara optimal agar individu mampu melakukan kehidupan-kehidupan sesuai dengan tuntutan-tuntutan atau nilai-nilai yang berlaku secara individual, kelompok maupun masyarakat luas sehingga yang sehat baik secara mental maupun secara sosial.
Pengertian mengenai kesehatan beragam ungkapnya Pengertian sehat atau kesehatan menurut dokter mungkin sedikit banyak akan berbeda dengan perawat, fisioterapi, apoteker atau tenaga peramedis lainnya. Meskipun mereka bersama-sama mengabdi pada bidang kesehatan. Adapun pengertian tentang kesehatan :
• Dalam indeks buku The International Dictionary Of Medicine and Biology (Freund.1991) mendefinisikan kesehatan sebagai suatu kondisi yang dalam keadaan baik dari suatu organisme atau bagiannya yang dirincikan oleh fungsi yang normal dan tidak adanya penyakit.
• WHO mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental ( rohani ) dan social, bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan.(Smeet. 1994).
• Pembahasan mengenai konsep kesehatan lebih difokuskan pada model-model kesehatan yang muncul. Model-model kesehatan itu antara lain model barat dan model timur.
Menurut Eisenberg (Helman, 1990) yang dimaksud dengan model adalah cara merekontruksi realita, memberikan makna kepada fenomena-fenomena alam yang pada dasarnya bersifat chaos. Model kesehatan barat dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu model biomedis atau sering disebut sebagai model medis ( Joesoet, 1990; Freund, 1991; Helman, 1990; Tamm, 1993), model spikiatris (Helman, 1990) dan model psikosomatis (Tamm, 1993) sedangkan model kesehatan timur umumnya disebut model kesehatan holistic (Joesoet, 1990) yang menekankan pada keseimbangan (Helman,1990).
Model biomedis (Freud, 1991) memiliki 5 asumsi.
1.Terdapat perbedaan yang nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian tubuh tertentu.
2.Bahwa penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh, entah secara biokimia atau neurofisiologi.
3.Keyakinan bahwa setiap penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang secara potensial dapat didefinisikan.
4.Melihat tubuh sebagai suatu mesin.
5.Konsep bahwa obyek yang perlu diatur dan dikontrol.
Asumsi ini merupakan kelanjutan dari asumsi bahwa tubuh adalah suatu mesin yang perlu mendapatkan pemeliharaan.
Model psikosometik menyatakan penyakit berkembang melalui saling terkait secara berkesinambungan antara factor fisik dan mental yang saling memperkait satu sama lain melalui jaringan yang kompleks.
Holisme dalam arti yang sempit melihat organisme manusiawi sebagao suatu system kehidupan yang semua kompenennya saling terkait dan saling tergantung. Sementara menurut arti luas pandangan holistis menyadari bahwa system tersebut merupakan suatu bagian integral dari system-sistem yang luas dimana organisme individu berinterksi terus menerus dengan lingkungan fisik dan sosialnya yaitu tetap terpengaruh oleh lingkungan.
Seseorang dikatakan sehat tidak cukup dilihat hanya dari segi fisik, psikologis dan sosial saja, tapi juga harus dilihat dari segi spiritual dan agama.
Inilah yang kemudian disebut Dadang Hawari sebagai dimensi sehat itu, yaitu : Bio-psiko-sosial-spiritual. Jadi seseorang yang sehat mentalnya tidak hanya sebatas pengertian terhindarnya dia dari gangguan dan penyakit jiwa baik neurosis maupun psikosis, melainkan patut pula dilihat sejauh mana seseorang itu mampu menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, mampu mengharmoniskan fungsi-fungsi jiwanya, sanggup mengatasi problem hidup termasuk kegelisahan dan konflik batin yang ada, serta sanggup mengaktualisasikan potensi dirinya untuk mencapai kebahagiaan.
Istilah kesehatan mental sendiri memperoleh pengertian yang beragam seiring perkembangannya :
1. Sebagai kondisi atau keadaan sebagaimana gambaran diatas.
2. Sebagai ilmu pengetahuan cabang dari ilmu psikologi yang bertujuan mengembangkan potensi manusia seoptimal mungkin dan menghindarkannya dari gangguan dan penyakit kejiwaan.
Seseorang dapat berusaha memelihara kesehatan mentalnya dengan menegakkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, yaitu :
1. Mempunyai self image atau gambaran dan sikap terhadap diri sendiri yang positif.
2. Memiliki interaksi diri atau keseimbangan fungsi-fungsi jiwa dalam menghadapi problema hidup termasuk stress..
3. Mampu mengaktualisasikan secara optimal guna berproses mencapai kematangan.
4. Mampu bersoiallisasi dan menerima kehadiran orang lain
5. Menemukan minat dan kepuasan atas pekerjaan yang dilakukan
6. Memiliki falsafah atau agama yang dapat memberikan makna dan tujuan bagi hidupnya.
7. Mawas diri atau memiliki control terhadap segala kegiatan yang muncul
8. Memiliki perasaan benar dan sikap yang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya.
Manusia sebagai mahkluk yang memiliki banyak keterbatasan kerap kali mengalami perasaan yang takut, cemas, sedih, bimbang dan sebagainya. Dalam psikologi gangguan atau penyakit jiwa akrab di isitilahkan dengan psikopatologi. Ada dua macam psikopatologi :
1. Neurosis
2. Psikosis.
Sementara dari H. Tarmidzi membagi psikopatologi menjadi 6 macam, selain 2 yang sudah disebutkan diatas dia mengemukakan yang lainnya : Psikomatik, kelainan kepribadian, deviasi seksual, dan retardasi mental.
Neurosis adalah gangguan jiwa yang penderitanya masih menyadari atas kondisi dirinya yang tengah terganggu. Sedangkan psikosis adalah penyakit jiwa yang parah , yang ditingkatkan ini penderita tidak lagi sadar akan dirinya.
Dengan demikian penyakit adalah suatu yang dimiliki organ, sedangkan penyakit illness adalah suatu yang dimiliki manusia yaitu respon subjektif pasien dan segala suatu yang meliputinya.
Menurut Cassell, Kleininan’s (Freund, 1991) mendefinisikan disease mengacu peda kondisi biofisik – masalah seperti yang dilihat dari perspektif praktisi biomedis. Sebaliknya illness mengacu pada bagaimana orang yang sakit dan anggota keluarganya atau jaringan social yang lebih luas merasakannya, dan bereaksi terhadap simtom-simtom dan ketidakmampuannya.
Kategori atau Penggolongan Kesehatan Mental
1.Gangguan Somatofarm
Gejalanya bersifat fisik, tetapi tidak terdapat dasar organic dan factor-faktor psikologis.
2.Gangguan Disosiatif
Perubahan sementara fungsi-fungsi kesadaran, ingatan, atau identitas yang disebabkan oleh masalah emosional.
3.Gangguan Psikoseksual
Termasuk masalah identitas seksual (impotent, ejakulasi, pramatang, frigiditas) dan tujuan seksual.
4.Kondisi yang tidak dicantumkan sebagai gangguan jiwa.
Mencakup banyak masalah yang dihadapi orang-orang yang membutuhkan pertolongan seperti perkawinan, kesulitan orang tua, perlakuan kejam pada anak.
5.Gangguan kepribadian
Pola prilaku maladaptik yang sudah menahun yang merupakan cara-cara yang tidak dewasa dan tidak tepat dalam mengatasi stres atau pemecahan masalah.
6.Gangguan yang terlihat sejak bayi, masa kanak-kanak atau remaja.
Meliputi keterbelakangan mental, hiperaktif, emosi pada kanak-kanak, gangguan dalam hal makan.
7.Gangguan jiwa organik
Terdapat gejala psikologis langsung terkait dengan luka pada otak atau keabnormalan lingkungan biokimianya sebagai akibat dari usia tua dan lain-lain.
8.Gangguan penggunaan zat-zat
Penggunaan alkohol berlebihan, obat bius, anfetamin, kokain, dan obat-obatan yang mengubah prilaku.
9.Gangguan Skisofrenik
Serangkaian gangguan yang dilandasi dengan hilangnya kontak dengan realitas, sehingga pikiran, persepsi, dan prilaku kacau dan aneh.
10.Gangguan Paranoid
Gangguan yang ditandai dengan kecurigaan dan sifat permusuhan yang berlebihan disertai perasaan yang dikejar-kejar.
11.Gangguan Afektif
Gangguan suasana hati (mood) yang normal, penderita mungkin mengalami depresi yang berat, gembira yang abnormal, atau berganti antara saat gembira dan depresi.
12.Gangguan Kecemasan
Gangguan dimana rasa cemas merupakan gejala utama atau rasa cemas dialami bila individu tidak menghindari situasi-situasi tertentu yang ditakuti.
CONTOH-CONTOH PERILAKU MENYIMPANG
1.Kleptomania (mencuri terpaksa)
Dalam hal ini orang terpaksa mencuri barang orang lain. Sebenarnya ia merasa gelisah dengan perlakuan mencuri itu, akan tetapi ia tidak dapat menghindarkan dirinya dari tindakan itu, walaupun barang-barang tersebut tidak dibutuhkannya.
Yang banyak menderita gejala ini adalah anak-anak karena orangtuanya terlalu keras, disiplin atau kurang memperhatikan.
Contohnya: seorang anak yang memiliki cukup uang mencoba mencuri disebuah toko, anehnya barang-barang yang dicuri tersebut tidak digunakan akan tetapi dibagi-bagikan kepada temannya dan tidak jarang barang-barang tersebut disimpan sebagai koleksi.
2.Fetishism
Pada gejala ini orang terpaksa mengumpulkan dan menyimpan barang-barang kepunyaan orang lain dari seks yang berlainan. Misalnya seorang laki-laki yang suka menyimpan saputangan, sepatu atau rambut wanita yang baginya mempunyai arti atau nilai seksuil dalam perasaannya.
3.Compusife (yang berhubungan dengan seksuil)
Gejala ini ada 2 macam yaitu:
Ingin tahu tentang kelamin dari orang berlainan seks
Ingin memamerkan kelamin sendiri
Dalam hal yang pertama seseorang akan berusaha untuk melihat atau memperhatikan bentuk tubuh dan kelamin orang lain dengan berbagai cara atau juga memegang-megangnya. Dalam hal ini yang kedua oaring merasa terdorong untuk memamerkan tubuh dan kelaminnya tanpa merasa malu.
Pada umumnya gejala tersebut diakibatkan oleh pengalaman yang tidak menyenangkan waktu kecil atau mungkin pula sebagai ungkapan dari keinginan yang tertekan yang pelaksanaannya dan merasa takut kalau keinginannya itu terasa kembali.
Rabu, 21 Desember 2011
SEMUA PASTI BISA
Kesempurnaan seseorang adalah anugerah dari ALLAH SWT. setiap manusia hanya bisa mengucapkan syukur apa yang ALLAH berikan kepada kita semua.terkadang semua manusia di lahirkan dengan keadaan yang tidak sempurna. ada beberapa dari saudara-saudara kita yang di lahirkan dengan keadaan yang tidak sempurna. namun diantara mereka semua ada yang menerima kekurangaannya dengan lapang dada ada pun juga yang tidak bisa menerimanya dengan cara mengakhiri hidupnya. walaupun kadang orang-orang yang sempurna menyepelekan orang penyandang cacat justru orang-orang penyandang cacat itu yang sering mendapatkan prestasi. contohnya seorang atlet pelari, perenang yang hanya memiliki sebuah kaki atau tangan, mereka terus berusaha keras untuk bisa . mereka juga berusaha menunjukan kemampuannya dengan menikuti olimpiade khusus cacat , tapi mereka semua berprestasi. tetapi manusia yang tidak bisa menerima keadaannya dengan cara meminta-minta di stasiun, terminal ataupun pasar. dari semua uraian di atas patut untuk di jadikan motivasi untuk kita semua, penyandang cacat saja terus berusaha dan berjuang agar mereka tidak merasa minder dengan manusia yang mempunyai fisik tidak sempurna,
Langganan:
Postingan (Atom)